Sebentar lagi Ramadhan tiba, bulan mulia diantara bulan-bulan dalam Islam lainnya. Menjelang Ramadhan tiba banyak masjid-masjid mulai berbenah untuk menyambutnya. Dari sekian banyak yang berbenah sudah bisa dipastikan pembenahan fisik masjid menjadi prioritas utama pengurus masjid saat ini, baik pengecatan ulang, tambal sini tambal sana, kebersihan total masjid dari karpet, Wc, kamar mandi dan lain sebagainya. Bahkan masjid yang sedang proses renovasi pun tak mau ketinggalan untuk sesegera mungkin mempercepat proses renovasinya agar masjid di saat Ramadhan tiba telah layak di pakai.
Tampilkan postingan dengan label Kini Saatnya Masjid Berubah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kini Saatnya Masjid Berubah. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Juni 2014
LUPA MEMPERSIAPKAN PROGRAM RAMADHAN YANG BAIK
Sebentar lagi Ramadhan tiba, bulan mulia diantara bulan-bulan dalam Islam lainnya. Menjelang Ramadhan tiba banyak masjid-masjid mulai berbenah untuk menyambutnya. Dari sekian banyak yang berbenah sudah bisa dipastikan pembenahan fisik masjid menjadi prioritas utama pengurus masjid saat ini, baik pengecatan ulang, tambal sini tambal sana, kebersihan total masjid dari karpet, Wc, kamar mandi dan lain sebagainya. Bahkan masjid yang sedang proses renovasi pun tak mau ketinggalan untuk sesegera mungkin mempercepat proses renovasinya agar masjid di saat Ramadhan tiba telah layak di pakai.Minggu, 23 Juni 2013
DICARI KETUA TAKMIR MASJID YANG PAHAM ILMU SYAR’I
Jika kita melihat fenomena masjid kita hari ini,
khususnya yang terkait dengan stuktur kepengurusan takmir masjid seringkali
kita binggung memikirkan, bagaimana tidak binggung hampir-hampir pengurusan
takmir masjid dari tahun ke tahun tidak pernah ada rotasi kader. Sehingga jika
kita melihat siapa saja yang duduk di stuktural kepengurusan masjid bisa
dipastikan orangnya itu-itu saja. Bahkan dibeberapa masjid pengurus masjid
orang yang tak pernah tergantikan.
Mungkin,
tidak adanya perubahan stuktural kepengurusan masjid hal yang wajar jika memang
tak memiliki kader muda yang potensial, tapi yang terjadi tidaklah demikian.
Banyak masjid kaum muslimin saat ini yang memiliki kader muda, bahkan tak
jarang sudah ada pula yang dinobatkan sebagai ustadz muda karena kealimannya
dan ada pula yang jebolan pondok pesantren. Tapi yang terjadi masjid tetap saja
mempertahankan kultur orang-orang sebenarnya tak mimiliki kapasitas untuk
menjadi Ketua/Pengurus Inti Takmir Masjid.
Maka
sudah bisa ditebak, akhirnya ketua/pengurus inti takmir masjid diisi oleh
orang-orang yang tak paham manajemen, apalagi paham Ilmu Syar’i. Bahkan
dibeberapa Masjid hanya bermodal gelar kesarjanaan semata.
Kamis, 07 Maret 2013
Masjidku Dananya tidak Transparan
Dalam perjalanan safar saya mampir sholat disalah satu masjid. Ketika akan masuk masjid saya dihadapkan dengan pandangan yang sangat mengesankan, masjid yang kusingahi tidak hanya bagus dan nyaman, tapi juga enak sekali dipandang, ingin rasanya berlama-lama di masjid tersebut.
Setelah usai sholat sambil menunggu jemputan teman, aku menyempatkan diri melihat papan pengumuman yang biasa ditempel di masjid, ya biasa, ingin tahu info kegiatan Islam barangkali ada yang menarik untuk diikuti. Tak puas hanya itu aku pun mencari tahu berapa besar sih dana kas masjid yang indah dan bagus tersebut. ...penasaran nih
Sesaat mencari, papan laporan keuangan masjid akhirnya ketemu. Tapi alangkah herannya saya ternyata laporan keuangan masjid tak tercatat sama sekali.Kemudian aku pun berusaha untuk menghilangkan keherananku dengan bertanya pada pengaja/tukang bersih-bersih masjid yang berada tak jauh dari tempatku berdiri. Maaf mas, kok laporan keuangan masjid tidak dicantumkan tho ? Memangnya kas masjidnya ada berapa sih mas ? Tanyaku padanya. Kemudian si penjaga masjid tersebut bilang :”Maaf ya mas, laporan keuangan masjid sini tidak pernah dicantumkan kok mas, bahkan saya sendiri yang setiap hari bersih-bersih masjid dan membantu menghitungkan infaq jumatan saja ngak pernah tahu berapa jumlahnya, yang tahu hanya Ketua Takmir masjid dan bendaharanya saja. Mendengar jawaban penjaga kebersihan masjid itu, aku pun hanya geleng-geleng kepala, kok bisa ya ? kas masjid yang seharusnya transparan pada ummat ternyata tak jelas sama sekali, sampai penjaga kebersihan yang setiap jumatan membantu menghitungkan infaqnya saja tak tahu.
Jumat, 28 September 2012
Takmir Masjid Harus Sejahterakan Umat, Bukan Hanya Megahkan Masjid
KLATEN (voa-islam.com) – Takmir masjid dituntut untuk mengembalikan peran masjid sebagai sarana pemberdayakan perekonomian masyarakat disekitar masjid.
Hal itu
dikemukakan Ustadz Nashrulloh Jumadi pada acara bedah buku karyanya,
“Lima Langkah Mudah Membentuk dan Mengoptimalkan Baitul Maal Masjid,”
Senin malam (19/3/2012).
Ustadz
Nashrulloh menyayangkan, saat ini para takmir masjid kurang peka dengan
kondisi masyarakat yang ada disekitarnya. Misalnya, realita banyaknya
masyarakat sekitar masjid yang lemah ekonominya tapi rajin shalat jamaah
dan ikut kegiatan ke masjid tapi tidak pernah disentuh dan dibantu
perekonomiannya. Pada waktu mereka datang kepada BMT atau ke bank, hal
itu justru malah memberatkan mereka. “Maka kembalikan dakwah sosial
kemasyarakatan yang ada di dalam khas masjid untuk disalurkan kepada
masyarakat kurang mampu”, ujarnya di hadapan seratusan perwakilan takmir
masjid di Klaten Jawa Tengah.
| Add caption |
Ironinya,
tambah Ustadz Nashrulloh, saat ini banyak dana kas atau saldo masjid
yang mengendap dalam kas bendahara, atau disimpan di Bank atau hanya
sekedar untuk membangun dan merenovasi masjid yang sudah terlampau
megah.
“Realita
lain yang tidak kalah memprihatinkan, banyak pula takmir masjid visi
misinya hanya bagaimana merenovasi dan membangun masjid
semegah-megahnya. Padahal rumah jama’ah masjid yang rutin ikut jama’ah
sholat disitu sudah mau roboh, tapi tidak ada satupun bendahara atau
takmir masjid yang punya kepedulian tentang hal tersebut. dana masjid
itu dari masyarakat, harusnya kalau mencontoh konsep Rasulullah SAW,
maka dana itu juga harus disalurkan kepada masyarakat pula”, Tegas
beliau.
Rabu, 26 September 2012
“PENTINGNYA MENJAGA KEIKHLASAN AMAL BAGI TAKMIR MASJID”
Kerusakan sebuah bangsa letaknya bukan hanya pada rakyat jelata, tapi kerusakan bangsa lebih banyak diakibatkan karena prilaku sang pemimpin. Pemimpin yang rusak berakibat yang sangat parah terhadap kelangsungan hidup rakyatnya dan kerusakan ini seringkali diakibatkan karena kehilangan tujuan dan orientasi. Mungkin pada awalnya tujuan dan orientasinya dulu semata-mata mengharap ridlo Allah swt, dan memakmurkan ummat tanpa kepentingan. Tapi lambat namun pasti tujuan dan orientasi itu pun hilang berganti menjadi tujuan dan orientasi dunia. Jujur kita akui menjadi pemimpin ummat tidak semua orang mampu menjalani dengan baik, termasuk dalam hal ini menjadi seorang takmir masjid, sebab menjadi takmir masjid adalah pemimpin ummat sesungguhnya dan wakil Allah untuk mengelola Baitullah agar mampu memberikan kesejahteraan dan manfaat untuk ummat. Sehingga takmir masjid memiliki tanggungjawab yang besar dihadapan Allah atas pengelolaan masjid dan masyarakat sekitar masjid yang pimpinnya dan suatu saat nanti akan dimintai pertanggungjawaban.Maka, benar kata orang bahwa hari ini tidak ada aktivitas yang paling mulia dilakukan oleh seorang muslim kecuali apa yang telah dilakukan oleh para takmir masjid kita hari ini. Maka amat pantas jika kita perlu “iri yang baik” terhadap takmir masjid kita hari ini atas ketulusannya, kesungguhan dan pengorbanannya dalam mengelola masjid.
Luar biasa menjadi takmir masjid saat ini, bayangkan saja setiap hari dan setiap waktu dirinya senantiasa di sibukkan dengan urusan mengelola masjid dan masyarakat lingkungan masjidnya. Terkadang tidak cukup hanya pikiran dan tenaga semata, bahkan harta siap dikorbankan.
Akan tetapi kemuliaan itu akan menjadi sirna dan peluang mendapatkan amal jariyah untuk bekal akhiratpun akan lenyap, manakala menjad takmir masjid tak mampu menyandarkan seluruh aktivitasnya pada KEIKHLASAN AMAL.
Senin, 23 Juli 2012
MENJADI KETUA TAKMIR MASJID “SEUMUR HIDUP”
Singkat cerita, sholat pun dilaksanakan dengan imam rawatib sang lelaki tua tadi. Setelah usai sholat, aku agak heran dengan kondisi masjid tersebut, masjid yang sedemikian megahnya, bahkan sedang proses renovasi, ternyata sedikit pemuda yang nampak sholat berjama’ah di masjid. Setelah usai sholat berjama;ah, aku mencoba menghampiri pemuda masjid yang barusan ku kenal untuk sekedar mencari jawab atas keherananku. “Mas, masjid sini besar dan megah, kenapa tak nampak pemuda yang aktif sholat ke masjid ?”
Jumat, 20 Juli 2012
PENTINGNYA “SMS CENTER MASJID”
Sarana komunikasi yang menjadi tren di zaman ini dan sangat poluler adalah HP. Hampir setiap rumah, bahkan setiap orang, tidak tua ataupun muda, laki-laki ataupun perempuan, pintar maupun bodoh, kaya maupun miskin sudah bisa dipastikan memiliki HP. Dalam perkembangannya HP telah menjadi sarana komunikasi yang murah meriah bagi kebanyakkan ummat manusia saat ini.
Tetapi sayangnya perkembangan yang sangat mudah, inovastif dan sangat membantu ini kurang mendapatkan sambutan yang positif masjid-masjid kita hari ini, sehingga hampir bisa dipastikan kebanyakkan masjid telah ketinggalan zaman. Terlebih lagi jika masjid diurus oleh pengurus yang gagap teknologi dan berparadigma lama, sudah tentu kemudahan informasi ini tidak akan berpengaruh bagi perkembangan masjid saat ini.
Dicari takmir Masjid yang masih Produktif
Melihat
fenomena pengelolaan masjid hari ini, seringkali dirasa sangatlah
membosankan, dikatakan demikian pasalnya masjid saat ini dari tahun ke
tahun cenderung tidak ada perubahan dalam pengelolaan masjidnya,
kalaupun ada yang berubah biasanya hanya pada bangunan dan fasilitas
semata, sedangkan dalam persoalan aktivitas cenderung nol besar,
contohnya yakni pengelolaan remaja masjid, pengelolaan dana kas masjid
dll, banyak yang berjalan asal jalan, tanpa memiliki Visi dan arah
yang jelas, sehingga sepuluh tahun yang lalu dengan saat ini, mampir
tidak ada perubahan. Maka wajar kalau banyak yang merasa bosan dengan
fenomena masjid hari ini yang tidak mampu memberikan perubahan yang
berarti pada ummat, bahkan kecenderungannya masjid saat ini banyak
dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan atau
partai tertentu pada saat menjelang pemilu.MELURUSKAN Pengelolaan Infaq/Kas Masjid hari ini
Tema
di atas sengaja saya angkat untuk menindaklanjuti dari tema-tema
sebelumya, khususnya tema yang terkait dengan pengelolaan kas masjid
pada buletin sebelumya, yakni yang membahas “Kemana Infaq jum’atan anda selama ini disalurkan/dimanfaatkan”
pada tema tersebut di atas penulis banyak mendapatkan masukkan, baik
secara langsung, melalui email maupun situs, bahwa ternyata masih ada
saja takmir/pengurus masjid yang tetap bertahan untuk menyimpan dana
kas masjidnya dan tidak segera menyalurkannya untuk ummat yang
membutuhkan, takmir/pengurus tadi berdalil bahwa kas masjid untuk
persediaan/cadangan dana kalau sewaktu-waktu dibutuhkan.Manajemen Masjid seharusnya lebih baik dari Manajemen RT (Rukun Tetangga) ….
Dari respon masyarakat yang masukkan, terbagi menjadi 3 kelompok, pertama, Kelompok yang pasif, Kedua,
kelompok yang menentang, karena mereka merasa dikritik dan
“ditelanjangi”, kelompok ini didominasi mereka yang tidak enghendaki
perubahan serta ketiga, mereka yang memberikan dukungan,
kelompok ini diwakili mereka yang menginginkan perubahan dan berharap
masjid memiliki Visi ke depan dengan baik dan jelas.
Berbagai
respon atas tulisan tersebut, penulis serahkan pada masyarakat untuk
memberikan penilaian, kewajiban penulis hanya menyampaikan dan
membangun para paradigma ummat agar memberikan perhatian yang serius
terhadap kemajuan masjidnya, jangan sampai masjid terkesan hanya untuk
ibadah ritual semata. Tidak hanya itu, penulis pun siap diajak
diskusi jika diminta, tentunya permintaan tersebut dengan cara yang
baik dan elegan dan tidak dengan cara yang kasar sebagaimana seorang
“raja”.
Kata temanku : Kalau Infaq “jangan” ke Masjid …?
Dalam
sebuah diskusi ringan dengan salah seorang pemuda muslim, yang saat
itu membahas tentang peran dan fungsi Baitul Maal Masjid, banyak
sekali lontaran ide dan gagasan yang mengalir begitu banyak diruang
diskusi. Dari sekian banyak gagasan dan lontaran ide yang mengemuka,
ada satu hal yang menarik perhatianku untuk terus ku renungkan dan ku
pikirkan dengan seksama.
Pemuda tersebut menyampaikan (walaupun ucapan ini hanya sekedar menyambung ucapan temannya dulu saat bertemu) Dengan agak bersemangat dia menuturkan pengalamannya. Berarti benar dong mas, .. kata teman saya saat itu, yang mengatakan “kalau infaq sebaiknya jangan di masjid, lebih baik disalurkan langsung aja pada mereka yang membutuhkan, kalau di masjid biasanya sih hanya diendapkan aja dan ujung-ujungnya untuk mbangun fisik masjid semata”. Tidak cukup berhenti disitu saja, pemuda tersebut pun melanjutkan ucapannya, saya baru sadar mas, setelah diskusi dengan jenengan tentang peran dan fungsi baitul maal masjid. Mendengar ungkapan pemuda tersebut, saya hanya diam dan tak memberikan jawaban apa-apa terlebih lagi membenarkan atau menyalahkannya.
KETIKA PENGURUS MASJID hanya pandai membangun fisik masjid semata ……
Salah satu pertayaannya yang saya sertakan pada tema kali ini yakni, ustadz saya mau tanya? Masjid di tempat saya dananya banyak, tapi dana yang banyak tersebut seringkali hanya digunakan oleh pengurus masjid untuk membangun fisik masjid semata, sedangkan pembinaan TPA/TPQ cenderung asal jalan, remaja kadang ada kadang tidak, trus program pemberdayaan ummat pun tak berjalan dengan baik dan lain sebagainya. Kemudian sang penanya memambahkan lagi, lalu bagaimana solusinya ustadz masjid di tempat saya,tolong diberikan jawaban dan solusinya?
Langganan:
Postingan (Atom)
