Alhamdulillah, segala puji bagi Allah
atas segala nikmat-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada
Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Ramadhan telah menemani kita sebulan
penuh. Tiba saatnya dia pergi. Kita pun harus rela berpisah dengannya.
Padahal, di bulan itu banyak kebaikan, rahmat, dan keberkahan yang
ditawarkan. Di dalamnya, hamba Allah yang beriman, memiliki kesempatan
besar mengejar ketertinggalan pahala pada hari-hari sebelumnya. Ia pun
bisa mengubur dosa-dosa dan kesalahannya di hari-hari lalu. Bahkan, ada
Lailatul Qadar, di mana satu malam lebih mulia dari seribu bulan. Amal
kebaikan di dalamnya nilainya lebih baik daripada amal serupa dikerjakan
selama seribu bulan yang tak ada Lailatul Qadar di dalamnya.
Subhanallah, anugerah besar bagi kaum mukminin. Namun, ternyata tak
semua orang Islam bisa menyukurinya. Juga tak semua bisa sabar menahan
diri dari kesibukannya terhadap dunia dan aktifitas dosa-dosa, guna
mengisinya dengan meningkatkan ibadah, shaum, shalat, tilawah, sedekah
dan lainnya. Sehingga saat Ramadhan pergi ia menjadi manusia yang
merugi. Kenapa bisa? Karena ia tak mampu memetik pahala dan memanen
ganjaran yang berlimpah. Bahkan kesalahan-kesalahannya tak juga
dihapuskan, sedangkan dosa-dosanya belum jua diampuni.
